Tingkatkan Pelayanan Publik melalui Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia

Foto peserta pelatihan bahasa isyarat bersama Pak Wawan
Kamis (08/06/2024), dalam rangka meningkatkan pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Bagian Organisasi bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya mengadakan Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di Rumah Bahasa Surabaya. “Saya mohon teman-teman bisa konsisten dalam hal ini, untuk mendukung pelayanan terbaik kepada masyarakat khususnya kelompok rentan”, jelas Noer Oemarijati, S.Sos, M.Si selaku Kepala Bagian Organisasi Kota Surabaya.
Rencananya kegiatan ini dilaksanakan selama sepuluh kali pertemuan, mulai 30 Mei hingga 3 Agustus 2024. Sebanyak 27 peserta yang wajib mengikuti pelatihan ini merupakan pegawai dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya. Pelatihan ini juga diajarkan langsung oleh tutor Tuli dari komunitas TIBA Surabaya (Tuli, Bahasa Isyarat Indonesia dan Aksesibilitas), yaitu Ika Irawan (Pak Wawan) didampingi oleh Alya Adjeng Kartikasari sebagai penerjemah. Perlu diketahui, Bisindo merupakan bahasa alami Tuli, sehingga teman Dengar tidak diperkenankan mengajar dan hanya dapat diajarkan oleh guru/tutor Tuli.
Pelatihan diawali dengan sebuah pertanyaan, “Tunarungu atau Tuli?”. Banyak dari peserta yang menganggap bahwa penggunaan istilah ‘Tuli’ ini tidak sopan dan kasar. Namun ternyata ‘Tuli’ ini merupakan suatu identitas dan kebanggan dengan bahasa isyarat, menunjukkan kemajuan dan kemampuan berpikir yang luas. “Jadi, tolong panggil kami Tuli, ya”, kalimat tersebut tertulis pada paparan halaman kedua. Disampaikan juga sebuah pepatah dari Dr. I. King Jordan, ‘A deaf person can do anything a hearing person can, except hear’, yang artinya seorang Tuli dapat melakukan apa saja sama seperti seorang dengar, kecuali mendengar.
Peserta kemudian diajak untuk mengenal perbedaan antara budaya Tuli dan Dengar sebelum mempelajari bahasanya, seperti bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuli serta etika berinteraksi dengan Tuli. Selanjutnya adalah penyampaian materi dasar yaitu memperkenalkan abjad, kemudian bagaimana cara memperkenalkan diri, serta sapaan dalam Bisindo. Hal-hal yang perlu diingat dalam Bisindo sendiri adalah gestur yang tepat serta ekspresi yang mendukung.
Salah seorang peserta, Mila, mengaku termotivasi dan senang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. “Saya senang berkesempatan untuk belajar bahasa Isyarat di Rumah Bahasa. Semoga dengan adanya pelatihan ini, nantinya memudahkan kami sebagai petugas dalam melayani masyarakat”, ungkap Mila yang kesehariannya bekerja sebagai petugas teknis Perpustakaan Balai Pemuda.
Penulis: Salsabila Anjar Firhani
Baca Juga :
- Kunjungan Mahasiswa Staffordshire University di Rumah Bahasa Surabaya
- Tingkatkan Pelayanan Publik melalui Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia
- Momo Sensei, Tutor Bahasa Jepang Asal Negeri Sakura
- Kelas Kebudayaan Rusia: Membuat Kartu Ucapan Bahasa Rusia
- Keseruan Kelas Kebudayaan Rusia: Melukis Boneka Matryoshka di Rumah Bahasa Surabaya